BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan depresi adalah jenis jenis penyakit gangguan
jiwa yang sering terjadi di masyarakat. Prevalensi
gangguan depresi penduduk di dunia 3 – 8 persen dan 50 persen terjadi pada
usia 20 – 50 tahun (Depkes, 2007). Perempuan dua kali
lipat beresiko mengalami depresi dibandingkan laki – laki, hal ini
diperkirakan
adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, dan perbedaan stresor
psikososial (Ismail dan Siste, 2010). Gangguan depresif ditandai dengan berbagai
keluhan seperti kelelahan atau merasa menjadi lamban, masalah tidur, perasaan
sedih, murung, nafsu makan terganggu dapat berkurang atau berlebih, kehilangan
berat badan dan iritabilitas. Penderita mengalami distorsi kognitif seperti
mengkritik diri sendiri, timbul rasa bersalah, perasaan tidak berharga dan
putus asa. (Depkes, 2007).
Gangguan depresif merupakan gangguan yang dapat
menganggu kehidupan dan dapat diderita tanpa memandang usia, status sosial,
latar belakang maupun jenis kelamin. Gangguan depresif dapat terjadi tanpa
disadari sehingga penderita terkadang terlambat ditangani sehingga dapat menimbulkan
penderitaan yang berat seperti bunuh diri (Depkes, 2007).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk
mengobati kondisi serius yang dikarenakan depresi berat.
Kadar NT (Nontransmiter) terutama NE (Norepinefrin) dan serotonin dalam
otak sangat berpengaruh terhadap depresi dan gangguan
SSP. Rendahnya kadar NE dan serotonin didalam otak inilah yang 3
menyebabkan
gangguan depresi, dan apabila kadarnya terlalu tinggi menyebabkan
mania.
Oleh karena itu antideresan adalah obat yang mampu meningkatkan kadar
NE
dan serotonin didalam otak (Prayitno,2008).
2.2
TANDA-TANDA YANG MUNCUL PADA PENDERITA DEPRESI
Tanda – tanda
gangguan depresif yang melanda jutaan orang di Indonesia setiap tahun,
seringkali tidak dikenali. Beberapa orang merasakan perasaan sedih dan murung
dalam jangka waktu cukup lama dengan latar belakang yang berbeda-beda. Variasi tanda
sangat luas dari satu orang ke orang lain, dari satu waktu ke waktu pada diri
seseorang. Gejalanya sering tersamar dalam berbagai keluhan sehingga seringkali
tidak disadari juga oleh dokter. Tanda gangguan depresif itu adalah:
1.
Pola tidur yang abnormal atau sering
terbangun termasuk diselingi kegelisahan dan mimpi buruk.
2.
Sulit konsentrasi pada setiap kegiatan sehari-hari.
3.
Selalu kuatir, mudah tersinggung dan
cemas.
4.
Aktivitas yang tadinya disenangi menjadi
makin lama makin dihentikan
5.
Bangun tidur pagi rasanya malas.
2.3
DAMPAK GANGGUAN DEPRESIF
Gangguan
ini bukan hanya mengimbas orang yang mengalaminya tetapi juga membuat dampak
pada anggota keluarga dan lingkungan. Karena gangguan depresif, seseorang
menjadi kehilangan minat, termasuk minat pada pemeliharaan diri sampai
aktivitas pekerjaan. Dengan demikian akan membuat kerugian ekonomi di tempat
kerja karena seseorang tak lagi dapat bekerja, sementara itu keluarga yang
perlu merawatnya juga kehilangan waktu dan tenaga, serta terganggu aktivitas
kesehariannya. Gangguan depresif yang serius akan merusak hubungan antar orang
termasuk dalam keluarga. Dampaknya adalah mengganggu kehidupan sosial ekonomi,
meningkatkan angka ketidak hadiran di sekolah dan tempat kerja sehingga
produktivitas menurun. Menurut penelitian National Institute of Mental
Health (NIMH), di Amerika kehilangan 44 juta dollar setahun karena gangguan
depresif. Selain itu gangguan depresif juga mengganggu kehidupan berkeluarga
serta dapat menimbulkan gangguan emosional yang hebat sehingga dapat mengancam
keselamatan diri, orang lain, dan lingkungannya. Gangguan depresif merupakan
kondisi psikologik yang berasal dari gangguan otak, mengubah cara pikir dan
perasaan, mengubah perilaku sosial, mengganggu rasa sehat pada fisik seseorang,
seperti:
1.
Letih tanpa bekerja apapun atau hanya
sedikit beraktivitas.
2.
Malas bekerja ketika mengalami
masalah serius.
3.
Kehilangan minat apapun yang mendalam
dan berlangsung lama.
4.
Bermanifestasi sebagai gangguan fisik
yang diwujudkan dalam bentuk kunjungan
ke dokter yang selalu berganti-ganti (shopping doctor).
ke dokter yang selalu berganti-ganti (shopping doctor).
Beberapa
faktor yang bisa memicu terjadinya depresi antara lain:
1.
Kejadian tragis atau signifikan seperti
kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.
2.
Kehamilan dan/atau melahirkan.
3.
Masalah keuangan.
4.
Terisolasi secara sosial.
5.
Trauma masa kecil.
6.
Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alcohol
2.4 PENGOBATAN PADA DEPRESI
Teknik
pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab
dari depresi yang dialami. Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang
penggunaannya diresepkan oleh dokter, dan beberapa penanganan yang bisa
dilakukan sendiri.
A. Mekanisme kerja antidepresan
Antidepressan
dipercaya bekerja dengan memperlambat pembuangan suatu zat-zat kimia di dalam
otak. Zat kimia ini disebut neurotransmiter. Neurotransmiter dibutuhkan untuk
fungsi normal otak. Antidepresan membantu orang depresi dengan memperbanyak zat
kimia alami yang tersedia di dalam otak
B. Antideprasan
Merupakan obat-obat yang efektif pada pengobatan
depresi, meringankan gejala gangguan depresi, termasuk penyakit psikis yang
dibawa sejak lahir. Antidepresan digunakan untuk tujuan klinis dalam sejumlah
indikasi termasuk yang berikut ini :
1.
Untuk mengurangi perasaan gelisah, panik,
dan stres.
2.
Meringankan insomnia
3.
Untuk mengurangi kejang / serangan dalam
perawatan epilepsi.
4.
Menyebabkan relaksasi otot pada kondisi
ketegangan otot.
5.
Untuk menurunkan tekanan darah dan atau
denyut jantung.
6.
Untuk meningkatkan mood dan atau
meningkatkan kesupelan.
Jenis antidepresan adalah :
1.
antidepresan trisiklik (ATS). Contoh:
Antidepresan dengan efek sedatif: amitriptilin, klomipramin, dosulepin
(dotiepin), doksepin, maprotilin, mianserin, trazodon, dan trimipramin
Antidepresan dengan efek kurang sedatif: amoksapin, imipramin, lofepramin
dan nortriptilin
2.
inhibitor monoamine oksidase (MAOI) Contohnya:
fenelzin dan isokarboksazid
3.
inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dan
sekelompok antidepresan lain yang tidak termasuk tiga kelas pertama. Contoh :
Fluoxetine dan Escitalopram
Indikasi
klinis utama untuk penggunaan antidepresan adalah penyakit depresif mayor. Obat
ini juga berguna dalam pengobatan gangguan panik, gangguan ansietas (cemas)
lainnya dan enuresis pada anak-anak. Berbagai riset terdahulu menunjukkan bahwa
obat ini berguna untuk mengatasi gangguan defisit perhatian pada anak-anak dan
bulimia serta narkolepsi.
Anti
deprasan seperti amitriptilin juga memiliki efek anti kejang. Golongan ini
digunakan pada pasien yang depresi dan juga mengalami kecemasan, atau untuk
penggunaan jangka lama dimana dikhawatirkan timbul ketergantungan bila
menggunakan benzodiazepine. Inhibitor MAO seperti meclobemid sangat berguna
pada pasien depresi dengan fobia. Selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRI)
seperti citaloram bisa digunakan untuk serangan panic.
Antidepresan Trisiklik
Obat
antidepresan trisiklik adalah sejenis obat yang digunakan sebagai antidepresan
sejak tahun 1950an. Dinamakan trisiklik karena struktur molekulnya mengandung 3
cincin atom.
C.
Mekanisme kerja
ATS
tampaknya mengatur penggunaan neurotransmiter norepinefrin dan serotonin pada
otak. Manfaat Klinis dengan riwayat jantung yang dapat diterima dan gambaran
EKG dalam batas normal, terutama bagi individu di atas usia 40 tahun, ATS aman
dan efektif dalam pengobatan penyakit depresif akut dan jangka panjang. Reaksi
yang merugikan dan pertimbangan keperawatan, perawat harus mampu mengetahui
efek samping umum dari anti depresan dan mewaspadai efek toksik serta
pengobatannya. Obat ini menyebabkan sedasi dan efek samping antikolinergik,
seperti mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, retensi urine, hipotensi ortostatik,
kebingungan sementara, takikardia, dan fotosensitivitas. Kebanyakan kondisi ini
adalah efek samping jangka pendek dan biasa terjadi serta dapat diminimalkan
dengan menurunkan dosis obat. Efek samping toksik termasuk kebingungan,
konsentrai buruk, halusinasi, delirium, kejang, depresi pernafasan, takikardia,
bradikardia, dan koma. Contoh obat-obatan yang tergolong antidepresan trisiklik
diantaranya adalah amitriptyline, amoxapine, imipramine, lofepramine,
iprindole, protriptyline, dan trimipramine. Selektif serotonin reuptake
inhibitor (SSRI). Diduga SSRI meningkatkan 5-HT di celah sinaps, pada awalnya
akan meningkatkan aktivitas autoreseptor yang justru menghambat pelepasan 5-HT
sehingga kadarnya turun dibanding sebelumnya. Tetapi pada pemberian terus
menerus autoreseptor akan mengalami desensitisasi sehingga hasilnya 5-HT akan
meningkat dicelah sinaps di area forebrain yang menimbulkan efek terapetik.
Contoh obat-obat yang tergolong SSRI diantaranya adalah fluoxetine, paroxetine,
dan sertraline.
Monoamine oxidase inhibitor (MAO
inhibitor)
Dulu MAOIs
secara nonselektif mengeblok MAO A dan B isoenzym dan memiliki efek
antidepresan yang mirip dengan antidepresan trisiklik. Namun, MAOIs bukan obat
pertama terapi antidepresan karena pasien yang menerima harus disertai dengan
diet rendah tiramin untuk mencegah krisis hipertensi karena MAOIs membawa
resiko interaksi obat dengan obat lain. MAOI tidak bersifat spesifik dan akan
menurunkan metabolisme barbiturate, analgesic opioid dan alkohol. Meclobamid
menghambat MAO A secara selektif dan reversible, relative aman dengan efek
samping utama pusing, insomnia, dan mual. Contoh obat-obat MAOIs diantaranya
phenelzine, dan tranylcypromine.
2.5 Interaksi Obat
Pemberian
berulang omeprazole 40 mg peroral sekali sehari meningkatkan waktu paruh
eliminasi diazepam sebanyak 130%, sebagai akibatnya terjadi peningkatan
konsentrasi plasma diazepam yang bermakna. Harus dipertimbangkan untuk
mengurangi dosis diazepam bila diberikan bersamaan dengan omeprazole.
2.6 Tata
pelaksanaan
Kira–kira
10 sampai 20% pasien mengalami kegagalan dalam memberikan respon terhadap
antidepresan trisiklik dan sejenisnya dan dosis yang tidak cukup mungkin
merupakan penyebab dari beberapa kegagalan ini. Penting untuk menggunakan dosis
yang cukup tinggi untuk pengobatanyang efektif, namun tidak terlalu tinggi
hingga menimbulkan efek toksik. Dosis rendah sebaiknya digunakan untuk
pengobatan awal pada pasien lansia (lihat pada efek samping di bawah). Pada
sebagian besar pasien, waktu paruh antidepresan trisiklik yang panjang
memungkinkan obat dapat diberikan satu kali sehari, biasanya pada malam hari.
BAB III
KESIMPULAN
Depresi
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti gangguan depresi persisten,
depresi perinatal, gangguan bipolar, depresi mayor, gangguan afektif musiman,
depresi psikotik. Penjelasan lebih lanjut bisa Anda lihat di laman gejala
depresi.
Antidepresan
merupakan obat-obat yang efektif pada pengobatan depresi, meringankan gejala
gangguan depresi, termasuk penyakit psikis yang dibawa sejak lahir.
Antidepressan
dipercaya bekerja dengan memperlambat pembuangan suatu zat-zat kimia di dalam
otak. Zat kimia ini disebut neurotransmiter. Neurotransmiter dibutuhkan untuk
fungsi normal otak. Antidepresan membantu orang depresi dengan memperbanyak zat
kimia alami yang tersedia di dalam otak. Penggunaan antidepresan tipe
penghambat MAO bersamaan dengan Dextral dapat mengakibatkan krisis Hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
BPOM RI.2015.Antidepresan Trisiklik dan Sejenisnya,(online). http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat/43-depresi/431-antidepresan-trisiklik-dan-sejenisnya
(Diakses pada 22 Maret 2017)
Depkes.2007,Pharmaceutical
Care Untuk Penderita Gangguan Depresif, (online), http://www.binfar.depkes.go.id. (Diakses 22
Maret 2017).
Dexa Medika. 2017. Omeprazole 40 mg.
(online). http://www.dexa-medica.com/ourproduct/prescription/ogh/omeprazoel
(Diakses pada 25 Maret 2017)
Ismail, R. I. &
Siste, K., 2010, Gangguan Depresi, Dalam Elvira,Silvia D., Hadisukanto,
Gitayanti, Buku
Ajar Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Prayitno, 2008, Farmakologi Dasar, Lilian Batubara (eds), 129 – 130 Penerbit Lenskopi ,
Jakarta.