![]() |
| Virus M.Tuberculosis Sumber Gambar: www.kompas.com |
Patofisiologi penyakit TBC
Infeksi primer diinisasi oleh implantasi organisme di alveolar melalui droplet nukeli yang sangat kecil (1-5mm) untuk menghindari sel epithelial siliari dari saluran pernafasan atas. Bila terinflantasi M. tuberculosis melalui saluran napas, mikroorganisme akan membelah diri dan dicerna oleh makrofag pulmoner, dimana pembelahan diri akan terus berlangsung walaupun lebih pelan. Nekrosis jaringan dan klasifikasi pada daerh yang terinfeksi dan nodus limfe regional dapat terjdi, menghasilkan pembentukan radiodense area menjadi kompleks Ghon.
Makrofag yang teraktivasi dalam jumlah besar akan mengelilingi daerah yang ditumbuhi M. tuberculosis yang padat seperti keju (daerah nekrotik) sebagai bagian dari imunitas yang dimediasi oleh sel. Hipersensitivitas tipe tertunda juga berkebang melalui aktivasi dan perbanyakan limfosit T. makrofag membentuk granuloma yang mengandung organisme. Keberhasilan dalam menghambat pertumbuhan M. tuberculosis membutuhkan aktivasi dari limfosit CD4 subset, yang dikenal sebagai Th-1, yang mengaktivasi makrofag melalui sekresi dari interferon Å·.
Sekitar 90% pasien yag pernah menderita penyakt primer tidak memiliki manifestas klinis lain selain uji kulit yang positif dengan atau tanpa kombinasi dengan adanya granuloma stabil yang di peroleh dari hasil radiografi. Sekitar 5% pasien (biasanya anak-anak, orangtua, atau penuruan system imun) mengalami penyakit primer yang berkembang pada daerah infeksi primer (biasanya lobus paling bawah) dan lebih sering dengan diseminasi, menyebabkan terjadinya infeksi meningitis dan biasanya juga melibatkan lobus paru-paru paling atas.
Sekitar 10% dari pasien mengalami reaktivasi, terjadi penyebaran organism melalui darah. Biasanya penyebara organism melalui darah ini menyebabkan pertumbuhan epat, penyebaran penyakit secara luas dan pembentukan granuloma yang dikenal sebagai tuberculosis miliari.
Tanda dan gejala serta hasil pemeriksaaan lab dari diagnose TBC
a. Gejala dan tanda TBC
Pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk berdahak terus menerus selama ± 3 minggu, batuk darah atau pernah batuk darah. Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkerngat malam, walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Pada anak-anak gejala Tb terbagi 2, yaitu gejala umum dan gejala khusus.
Gejala umum, meliputi :
- Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.
- Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paing sering di daerah leher, ketiak dan lipatan paha.
- Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.
- Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria, atau infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam.
Gejala khusus sesuai dengan bagian tubuh yang diserang,misalnya :
- TB kulit atau skrofuloderma
- TB tulang dan sendi, meliputi : tulang punggung (spondilitis) : gibbus, tulang panggul (koksitis) : pincang, pembengkakan di pinggul, tulang lutut : picang dan atau bengkak.
- Tb otak dan saraf : meningitis dengan gejala kaku duduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.
Gejala mata
- Conjunctivis phlyctenulris
- Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan fundus kopi)
b. Hasil pemeriksaan laboratorium dari diagnose
- Hasil pemeriksaan laboratorium Diagnosis TB paru pada orang dewasa
Selain itu, hasil uji tuberkulin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita TB.Misalnya pada penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus), malnutrisi berat, TB milier dan morbili. Sementara diagnosis TB ekstra paru, tergantung pada organ yang terkena. Misalnya nyeri dada terdapat pada TB pleura (pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan pembengkakan tulang belakang padaSponsdilitis TB. Seorang penderita TB ekstra paru kemungkinan besar jugamenderita TB paru, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan dahak dan fotorontgen dada.
2, Hasil pemeriksaan laboratorium
- Uji tuberkulin, dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan dengan cara intra kutan) Bila uji tuberkulin positif, menunjukkan adanya infeksi TB dan kemungkinan ada TB aktif pada anak. Namun, uji tuberkulin dapat negatif pada anak TB. berat dengan anergi (malnutrisi, penyakit sangat berat, pemberian imunosupresif, dan lain-lain).
- Reaksi cepat BCG, Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm, maka anak tersebut telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
- Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi, Pemeriksaan BTA secara mikroskopis lansung pada anak biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat pada anak. Pemeriksaan serologis seperti ELISA, PAP, Mycodot dan lain-lain, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis.
- Respons terhadap pengobatan dengan OAT, Kalau dalam 2 bulan menggunakan OAT terdapat perbaikan klinis, akan menunjang atau memperkuat diagnosis TB.
Obat TBC dan mekanisme kerjanya
- Etambutol, Bersifat bakteriostatik, dengan menekan pertumbuhan kuman TB yang telah resisten terhadap Isoniazid dan streptomisin. Mekanisme kerja, berdasarkan penghambatan sintesa RNA pada kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel.
- Isoniazid, mekanisme kerja berdasarkan terganggunya sintesa mycolic acid, yangdiperlukan untuk membangun dinding bakteri. Bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang.
- Pirazinamida, Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Mekanisme kerja, berdasarkan pengubahannya menjadi asam pyrazinamidase yang berasal dari basil tuberkulosa.
- Rifampisin, Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Mekanisme kerja, Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri Ribose Nukleotida Acid (RNA)-polimerase sehingga sintesis RNA terganggu.
- Streptomisin, Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang sedang membelah. Mekanisme kerja berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal.
Tujuan terapi penatalaksanaan penyakit TBC
Terapi atau Pengobatan penderita TB dimaksudkan untuk;
1) menyembuhkan penderita sampai sembuh,
2) mencegah kematian,
3) mencegah kekambuhan, dan
4) menurunkan tingkat penularan.
prinsip pengobatan penyakit TBC! (berapa lama, jenis obatnya dan kombinasinya, dosisnya, informasi yang perlu disampaikan pada pasien dan keluarga)
Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan, maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :
- Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan terhadap OAT.
- Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
1. Tahap IntensifPada tahap intensif (awal)
- Penderita mendapat obat setiap hari dan perludiawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
2. Tahap Lanjutan
- Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
- Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan.
TB oleh Pemerintah Indonesia :
a. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3.
b. Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.
c. Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3.
Disamping ketiga kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
DAFTAR PUSTAKA
Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Depkes RI, Sagung Seto, 2000, hal 234-242.
Informasi Spesialite Obat, Edisi 40 / 2005.
Cada , DJ , Drug Facts and Comparison 58th ed. St. Louis: Facts and Comparisons part of Wolters Kluwer Health;2004: 1599-1620
Thomason AR, Warren EI. Tuberculosis: A Clinical Rreview. US Pharmacist. 2005; 7: Hs-14-HS-22
Wattimena. R. J.; dkk, “Farmakodinami dan Terapi Antibiotik”, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, penerbit Gadjah Mada University press, Yogyakarta, 1991, hal 136-177.
WHO, Treatment of Tuberculosis Guidelines for National Programmes, Second edition, World Health Organization, Geneva, 1997, page 19-38.
WHO, Treatment of Tuberculosis Guidelines for National Programmes, Third edition, World Health Organization, Geneva, 2003, page 47-52.
WHO, Tuberculosis Indonesia Facts, TB program Progress Report, 2004.
Yunilah, Elin Sukandar, dkk. 2013. Iso Farmakoterapi buku I. Isfi penerbitan. Jakarta.
