
Ilustrasi : www.lusa.afkar.id

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker merupakan buah dari perubahan
sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol, peningkatan
jumlah sel tidak normal umumnya membentuk benjolan di sebut tumor/kanker, namun
tidak semua tumor bersifat kanker, tumor yang bersifat kanker di sebut tumor
ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya
merupakan gumpalan lemak yang terbentuk dalam satu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor
jinak tak menyebar ke bagian lain tubuh penderita. Kanker payudara bukan
penyakit menular, tetapi merupakan salah satu penyakit “menakutkan” bagi kaum
wanita masalah infeksi akibat kanker merupakan masalah utama dan penderita
cenderung meningkat. Kanker payudara termasuk kanker yang paling banyak
diperbincangkan karena keganasannya yang sering kali berakhir dengan kematian.
Kanker payudara akan memperlihatkan
kekhasannya dalam menyerang penderitanya, keganasan kanker ini ditunjukkannya
dengan menyerang sel – sel normal sekitarnya terutama sel – sel yang lemah. Menurut WHO
delapan sampai dengan sembilan persen wanita akan mengalami kanker payudara.
Ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui
pada wanita. Setiap tahun lebih dari 250.000 kasus baru kanker payudara
terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih 175.000 di Amerika serikat. Masih menurut
WHO, tahun 2000 di perkirakan 1.2 juta
wanita terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700.000 meninggal karenanya.
Belum ada data statistik yang akurat di Indonesia namun data yang terkumpul di
RS menunjukkan penyebab utama kematian pada wanita akibat kanker.
Kanker payudara merupakan kanker
dengan insiden tertinggi kedua di Indonesia dan terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun insiden ini meningkat.
Dari data tahun 2006, disebutkan dua penyakit kanker tertinggi di Indonesia
adalah kanker payudara (8.328 kasus) dan kanker
leher rahim (4.649 kasus). Berdasarkan “Pathological Based Registration”
kanker payudara mempunyai insiden relatif 11.5 persen diperkirakan di Indonesia
mempunyai inseiden minimal. 20.000 kasus baru pertahun dengan kenyataan bahwa
lebih dari 50 persen kasus berada dalam stadium lanjut.
Untuk melaksanakan program penapisan
kanker leher rahim dan kanker payudara di Indonesia, departemen kesehatan
bersama profesi terkait pada akhir 2006 telah menyelenggarakan pilot proyek
deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di enam kabupaten yaitu:
Deli serdang (Sumatera utara), Gresik (Jawa timur), Kebumen (Jawa tengah),
Gunung kidul (DI Yogyakarta), Karawang (Jawa barat), dan Gowa (Sulawesi
selatan).
Pada tahun 2008 di Indonesia, jumlah
kasus kanker payudara sebesar 36,2% atau sebanyak 39.831 kasus, dengan jumlah
kematian 18,6 per 100.000 penduduk (ChartBin, 2011). Pada tahun 2010 menurut
data WHO terakhir yang dipublikasikan pada bulan April 2011, kematian akibat
kanker payudara di Indonesia mencapai 20.052 atau sebesar 1,41%, dengan tingkat
kejadian sebesar 20,25 per 100.000 penduduk Indonesia dan menempati urutan 45
di dunia (Indonesia Health Profile, 2011). Jumlah kasus kanker payudara pada
tahun 2005 di Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 3.884 atau (36,83%) dari 10.546
kasus kanker. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2009 sebesar 24.204 kasus lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2008
sebanyak 27.125 kasus, terdiri dari Ca. servik 9.113 kasus (37,65%), Ca. mamae
12.281 kasus (50,74%), Ca. hepar 2.026 (8,37%), dan Ca. paru 784 kasus (3,24%).
Prevalensi kanker payudara di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009 sebesar
0,037% dan tertinggi di Kota Surakarta sebesar 0,637%.
Jumlah yang diperkirakan 50%
penderita kanker payudara di Indonesia datang memeriksakan penyakit kanker yang
dideritanya sudah pada stadium lanjut. Deteksi dini kanker payudara merupakan
langkah awal yang baik untuk mengetahui adanya penyakit kanker payudara sedini
mungkin, yaitu dengan Periksa payudara Sendiri (SADARI). Keterlambatan deteksi
dini ini kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan wanita tentang deteksi
dini kanker payudara.
Payudara bukan penyakit menular
tetapi merupakan salah satu penyakit “menakutkan” bagi kaum wanita masalah
infeksi akibat kanker merupakan masalah utama dan penderitanya cenderung
meningkat. Untuk menurunkan angka penderita kanker payudara. Diperlukan
kerjasama terkait antara departemen kesehatan ataupun yayasan yang bergerak di
bidang kesehatan untuk menanggulangi masalah kanker payudara. Faktor penyebab
dari tumor ganas umumnya belum diketahui secara pasti. Khusus untuk kanker
payudara di duga kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal
(endogen dan eksogen), virus dan bakteri, sedangkan gaya hidup biasanya di
sebabkan oleh pengetahuan tentang gizi, pendidikan, serta pendapatan.
Dalam jurnal Oxford Annals of
Oncology, ketika seseorang dinyatakan menderita kanker, maka akan terjadi
beberapa tahapan reaksi emosional dan salah satunya yang sering terjadi adalah
depresi. Menyediakan informasi bagi pasien merupakan faktor penentu penting
bagi kepuasan pasien dan juga dapat mempengaruhi kualitas kesehatan, tingkat kecemasan
dan tingkat depresi penderita kanker. Depresi sering kurang terdiagnosis karena
banyak faktor, termasuk kurangnya penyediaan pengetahuan tentang penilaian teknik
dan pilihan pengobatan
Menurut Miller, sebanyak 16%-25%
pasien menderita kanker sekaligus depresi. Setelah pasien terdiagnosa kanker
payudara pada tahun pertama, 48% wanita mengalami kecemasan dan depresi. Dampak
depresi pada penderita kanker tidak hanya pada penderitanya saja, tetapi juga
bisa berakibat pada keluarganya, yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas
hidup penderita bila penanganannya tidak adekuat.
Faktor risiko yang mempengaruhi
terjadinya depresi pada pasien kanker diantaranya stadium lanjut, pengendalian
nyeri dan keluhan yang tidak baik, riwayat depresi sebelumnya, alkoholik,
gangguan endokrin, gangguan neurologik, dan obat-obatan salah satunya
kemoterapi. Sedangkan Miller, mengungkapkan faktor risiko terjadinya depresi
diantaranya adalah pernah mengalami depresi atau gangguan pikiran sebelumnya,
sulit dalam menerima atau menyesuaikan diri dengan diagnosa kanker, usia masih
muda, memiliki masalah dengan alcohol dan narkoba, kanker terjadi ketika sedang
mengalami kejadian lain yang menimbulkan stres, tidak mendapatkan dukungan
keluarga atau dukungan sosial, sebelumnya pernah mengalami pengalaman buruk
ketika anggota keluarga yang lain atau teman dekatnya mengidap kanker, tidak
memiliki keyakinan terhadap efektifitas dari perawatan, perubahan fisik atau
cacat fisik, perawatan yang bisa menimbulkan efek samping yang tidak
menyenangkan.
Dari
uraian di atas, penulis berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
kejadian Ca Mamae atau kanker payudara darimulai pengertian sampai asuhan
keperawatan untuk pasien ca mamae.
B.
Tujuan
1.
Mahasiswa dapat mengetahui definisi ca mamae,
2.
Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dan factor resiko ca
mamae,
3.
Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis ca mamae.
4.
Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi ca mamae
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Ca mammae (carcinoma
mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar dan
jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara. Ca mammae adalah
tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di
dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada
payudara.
Carsinoma mammae
merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal
timbul dari sel sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe
dan pembuluh darah.
B.
Etiologi
Faktor resiko
terjadi kanker payudara:
1.
Riwayat pribadi tentang kanker payudara
2.
Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga
langsung) dari wanita dengan kanker payudara
3.
Menarke dini
4.
Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak
pertama
5.
Menopous pada usia lanjut
6.
Riwayat penyakit payudara jinak
7.
Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas
dan sebelum usia 30 tahun beresiko hamper 2 kali lipat
8.
Obesitas-resiko terendah diantara wanita pascamenopouse
9.
Kontrasepsi oral
10.
Terapi pergantian hormone
11.
Masukan alcohol
Tipe kanker
payudara:
1.
Karsinoma duktal menginfiltrasi (75%)
karsinoma
duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju puting susu.
2.
Karsinoma lobular menginfiltrasi (5-10%)
karsinoma
lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah menopause
3.
Karsinoma medular (6%)
kanker ini
berasal dari kelenjar susu
4.
Kanker musinus (3%)
5.
Karsinoma inflamatori (1-2%)
6.
Penyakit paget payudara (jarang Terjadi)
C.
Manifestasi klinik
Tanda carsinoma Kanker payudara
kini mempunyai ciri fisik yang khas, mirip pada tumor jinak, massa lunak, batas
tegas, mobile, bentuk bulat dan elips, Gejala carsinoma Kadang tak nyeri,
kadang nyeri, adanya keluaran dari puting susu, puting eritema, mengeras,
asimetik, inversi, gejala lain nyeri tulang, berat badan turun dapat sebagai petunjuk
adanya metastase
D. Penentuan Stadium Kanker
Payudara.
Dalam melakukan pengobatan kanker payudara, biasanya dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor antara lain grade kanker, status hormon
reseptor, status HER2 dan kondisi spesifik pasien seperti usia dan faktor
menopause.
1. Grade kanker, peningkatan grade kanker terdiri
dari grade 1-3, grade yang lebih rendah berarti pertumbuhan kankernya lambat.
Sebaliknya, grade yang lebih tinggi berarti sel kanker lebih cepat berkembang.
2. Status hormon reseptor, estrogen dan
progesteron merupakan hormon yang sering melekat pada reseptor. Beberapa sel
kanker payudara sebagai bahan bakar pertumbuhan sel tersebut. Sampel biopso
dapat diuji untuk melihat apakah sel-sel kanker memiliki reseptor estrogen dan
progesteron. Jika tidak ada sering disebut sebagai ER positif. Hal ini berarti
sel kanker lebih cenderung memiliki prognosisi atau hasil yang lebih baik dan
mungkin merespon saat dilakukan terrapi hormon. Dua dari tiga kasusu payudara
setidaknya memiliki salah satu jenis reseptor tersebut.
3. Status HRE2, sekitar satu dari lima kasus
kanker payudara terlalau banyak memiliki protein yang disebut HER2. Sel-sel
kanker disertai peningkatan HER2 disebut HER2-positif serta cenderung tumbuh
dan menyebar lebih cepat dari pada jenis kanker payudara lainnya. Pengujian
HER2 harus dilakukan pada semua wanita yang baru terdiagnosis kanker payudara.
Stadium adalah proses mencari tahu
seberapa luasnya kanker tersebut pada saat ditemukan. Stadium kanker merupakan
faktor terpenting dalam menentukan pilihan pengobatan kanker payudara.
|
stadium |
Keterangan |
|
0 |
Stadium ini disebut kanker payudara non-invasif. Ada 2 tipe yaitu
: DCIS ( Ductal Carcinoma In Situ ) dan LCIS ( Lobular Carcinoma In Situ ) |
|
I |
Kanker invasif kecil, ukuran tumor kurang dari 2 cm dan tidak
menyerang kelenjar getah bening |
|
II |
Kanker invasif, ukuran tumor 2-5 cm dan sudah menyerang kelenjar
getah bening |
|
III |
Kanker invasif besar, ukuran tumor lebih dari 5 cm dan benjolan
sudah menonjol ke permukaan kulit, pecah, berdarah atau bernanah |
|
IV |
Sel kanker sudah bermetastesis atau menyebar ke organ lain,
seperti paru-paru hati, tulang, atau otak. |
Rekomendasi
The American Society Of Clinical Oncologists (ASCO ) mengenai penggunaan terapi
hormon bagi pasien kanker payudara yang
memiliki reseptor hormon positif serta berdasar stadium kanker dan status
menopause sebagai berikut :
1. Kanker payudara stadium awal dan pasca
menopause
Terapi hormon yang direkomendasikan pertama
kali adalah diberikan aromatse inhibitor
(arimidex). Wanita yang sudah menggunakan tamoxifen selama 2-3 tahun dapat
mempertimbangkan untuk beralih menggunakan aromaterase inhibitor seperti femara
2. Kanker payudara stadium lanjut
Pasien kanker pada kondisi ini
direkomendasikan untuk menerima tamoxifen
3. Kanker payudara stadium lanjut
Pengobatan menggunakan aromatase inhibitor seperti femara dapat digunakan
setelah 2-5 tahun penggunaan tamoxifen atau ketika sel-sel kanker sudah tidak
merespon pengbatan menggunakan tamoxifen. Apabila sel-sel kanker juga sudah
tidak respon terhadap aromatase inhibitor maupun tamoxifen, maka
dipertimbangkan penggunaan faslodex.
E.
Komplikasi
Komplikasi
potensial dari Ca payudara adalah limfederma. Hal ini terjadi jika saluran
limfe untuk menjamin aliran balik limfe ke sirkulasi umum tidak berfungsi
dengan adekuat. Jika nodus eksilaris dan sistem limfe diangkat, maka sistem
kolateral dan aksilaris harus mengambil alih fungsi mereka. Apabila mereka
diinstruksikan dengan cermat dan didorong untuk meninggikan, memasase dan
melatih lengan yang sakit selama 3-4 bulan. Dengan melakukan hal ini akan
membantu mencegah perubahan bentuk tubuh dan mencegah kemungkinan terbukanya
pembengkakan yang menyulitkan.
- Pemeriksaan Penunjang
1.
Laboratorium meliputi:
a.
Morfologi sel darah
b.
Laju endap darah
c.
Tes faal hati
d.
Tes tumor marker (carsino Embrionyk
Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
e.
Pemeriksaan sitologik
f.
Pemeriksaan ini memegang peranan
penting pada penilaian cairan yang keluar spontan dari putting payudar, cairan
kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi
2.
Mammagrafi
Pengujian
mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara dini. Memperlihatkan
struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor
yang terjadi pada tahap awal. Mammografi pada masa menopause kurang bermanfaat
karean gambaran kanker diantara jaringan kelenjar kurang tampak.
3.
Ultrasonografi
Biasanya
digunakan untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae
ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan kista. kadang-kadang
tampak kista sebesar sampai 2 cm.
4.
Thermography
Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal; dari mammae atau
mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena peningkatan
suplay darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.
5.
Xerodiography
Memberikan dan
memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-pembuluh darah dan jaringan
yang padat. Menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor.
6.
Biopsi
Untuk
menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas, dengan cara
pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap massa dan berguna
klasifikasi histogi, pentahapan dan seleksi terapi.
7.
CT. Scan
Dipergunakan
untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
8.
Pemeriksaan hematologi
Yaitu dengan
cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan
sendimental dan sentrifugis darah.
- Penatalaksanaan Medis
1.
Pembedahan
a.
Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot
pectoralis mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot
pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b.
Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding
dada tidak diangkat.
c.
Lumpectomy/tumor
Pengangkatan
tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat. Exsisi dilakukan
dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada di sekitar tumor
tersebut.
d.
Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e.
Ouadranectomy.
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot
pectoralis mayor.
2.
Radiotherapy
Biasanya
merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan
therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan,
nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorokan.
3.
Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran
darah. Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan
membuat, mudah terserang penyakit.
4.
Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga
digabung dengan therapi endokrin lainnya.
H. Pencegahan
Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya
benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri.
Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum
menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara
pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1.
Berdirilah di depan cermin dan
perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak
sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan
apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat
kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke
dokter.
2.
Letakkan kedua lengan di atas kepala
dan perhatikan kembali kedua payudara.
3.
Bungkukkan badan hingga payudara
tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
4.
Berbaringlah di tempat tidur dan
letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri.
Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada
benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan
pada ketiak kiri.
5.
Periksa dan rabalah puting susu dan
sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari
tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan
terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari
tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah
pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh
secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan
I. Discharge planning
1.
Terapi non bedah: penyinaran,
kemoterapi, terapi hormone dan endokrin
2.
Lakukan pemeliharaan kulit/diri
dengan benar (menggunakan sabun ringan dengan penggosokan minimal, hindari
sabun berparfum atau berdeodoran, gunakan lotion hidrofilik untuk kekeringan,
gunakan sabun aveno jika terjadi pruritus, dan hindari pakaian yang ketat,
kutang dengan kawat penyangga, dan suhu yang berlebihan atau cahaya
ultraviolet.
3.
Hindari mencuci rambut setiap hari
dan gunakan sampo ringan untuk mengihindari kerontokan
4.
Biarkan rambutmongeringsecara ajami
danjangan menyikatrambut
5.
Konsultasikan dengan dokter untuk
pemakaian terapi hormonal
6.
Makan makananyangbergizisihingga
dapat meningkatkan kekebaiantubuh
7.
Istirahat cukup dan olahraga secara
teratur
8.
Jika menginginkan kehamijan
konsultasikan dengan dokter karena kebanyakan diminta menunggu selama 2 tahun
9.
Sadari .Tata cara sadari (periksa
payudara sendiri)
a.
Berdirilah di depan cermin dan
perhatikan apakah ada kelainan pada payudara, Biasanya kedua payudara tidak
sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan
apakah terdapat keriputj lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila
terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah
pergi ke dokter.
b.
Letakkan kedua lengan di atas kepala
dan perhatikan kembali kedua payudara. Kemudian bungkukkan badan hingga
payudara tergantung ke bawah, & periksa lagi.
c.
Berbaringlah di tempat tidur dan
letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri.
Rabalah payudara kiri dengan telapak jari- jari kanan. Periksalah apakah ada
benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau
pembengkakan pada ketiak kiri.
d.
Periksa dan rabalah puting susu dan
sekitarnya. Pada urnumnya ketenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari
tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan
terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari
tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjoian sebesar 1 cm atau lebih, segeralah
pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh
secara sempurna. Rekomendasi American Cancer Sociaty (2001) untuk deteksi dini
kanker
BAB III
KESIMPULAN DAN
SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan mengenai kanker payudara, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara.
Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya
2.
Etiologi kanker payudara tidak diketahui tetapi ada faktor predisposisi
yang menyertainya yaitu keturunan, usia yang makin bertambah, tidak memiliki
anak, kehamilan pertama pada usia di atas 30 tahun, periode menstruasi yang
lebih lama dan faktor hormonal.
3.
Tahapan patofisiologi kanker payudara yaitu transformasi, fase inisiasi,
fase promosi, dan fase metastasis.
4.
Tanda dan gejala kanker payudara adalah terdapatnya benjolan dan kulit
berubah warna, nyeri hilang timbul.
5.
Klasifikasi kanker payudara terdiri dari klasifikasi patologik dan klasifikasi
klinik.
6.
Pencegahan kanker payudara terdiri dari pencegahan primer, sekunder, dan
tersier.
7.
Penanganan kanker payudara diantaranya adalah mastektomi, radiasi,
kemoterapi, dan lintasan metabolisme.
B. Saran
Berdasarkan
pembahasan dalam makalah ini, maka kami sarankan bahwa sebaiknya para wanita
Indonesia melakukan pencegahan dengan cara pendeteksian dini agar mengurangi
risiko terkena kanker payudara.
DFTAR PUSATAKA
Anonim.
2011. Kanker Payudara. (http://www.google.com/pharmaceuticals) diakses tanggal 01 Desember 2019. Kebumen.
Anonim.
2011. Kanker Payudara. (http://www.google.com/bab_2.pdf) diakses tanggal 01
Desember 2019. Kebumen.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2008, Visi Pembangunan Kesehatan: Indonesia Sehat 2010. (http://www.
Depkes.go.id/Indonesia.html). (diakses 15 April 2009)
Hidayat, pertama, Salemba Medika, Jakarta.A. Azis Alimul, 2007.
Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi
Jackie, Lincoln-wilensky, 2008,
Kanker Payudara Diagnosis dan Solusinya, cetakan pertama, Prestasi Pustaka,
Jakarta.
Manuaba Ida Ayu
Chandranita, dkk. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Manuaba Ida Ayu Chandranita, dkk.
2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan
Bidan. Edisi 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Prawirohardjo Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan.
Edisi 2. PT Bina Pustaka Sarwono rawirohardjo. Jakarta